ISLAMIC RESURGENCE DAN IMPLEMENTASINYA DALAM STUDI ISLAM

Sebuah Tanda yang Retak dalam Pembacaan Islam dan Barat

  • Suhermanto Ja’far
Keywords: Kata Kunci: Kritik Ideologi, Nahdah (Islamic resurgence), Turath dan Barat Modern

Abstract

Tulisan ini didasarkan atas Fenomena Nahdah sebagai Premis utama dan karakterisitik dasar “Kebangkitan Islam” (Islamic resurgence) merupakan problem yang harus didasarkan pada struktur epistemologis yang kompleks, yang memiliki komponen baik Islam dan Barat. Kebangkitan Islam adalah sebuah fenomena tradisi, budaya, dan politik yang luas dalam kaitannya dengan Islam modern. Kebangkitan Islam telah menafsir ulang tradisi Islam dengan cara yang kreatif dan unik, sehinga kebangkitan Islam merupakan fenomena ekspresi filosofis masyarakat Muslim modern dan kontemporer. Fenomena Nahdah dalam perspektif Abu Rabi berangkat dari pendekatan critical Philosophy, suatu pendekatan sistematis-komprehensif, kritis radikal dan rasional-intersubyektif terhadap srtuktur epistemologi turath dan Barat Modern, sehingga masyarakat Islam lebih bersifat terbuka terhadap perubahan sosial. Sementara itu, Pendekatan sejarah Abu Rabi’, disamping bersifat kronologis dan kontinyu dari setiap tahapan mulai dari tahapan hegemonic-kolonialisme, tahapan ideologis-nasionalis dan tahapan relasional-interaksi, juga dipergunakan dalam pengertian arkeologis untuk membahas rupture epistemic setiap tahapan sejarah. Secara epistemologis, kebangkitan Islam ditandai dengan adanya pertemuan nalar Islam dengan nalar Barat modern. Pertanyaan penting yang diajukan oleh para pemikir Kebangkitan Islam adalah bagaimana Muslim bisa otentik dan modern pada saat yang sama. Sebagai konsekuensinya-dikalangan Barat dan Islam secara umum memandang keduanya secara relasional dan intersubyektif. Barat telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat Islam untuk studi Islam di Barat. Pada akhirnya, telah terjadi perubahan pada Islam yang “tertutup” menjadi terbuka”. Ini semua karena masyarakat Arab (Islam), secara epistemologis sudah semakin rasionalis, intersubyektif dan liberal dalam memahami kedua peradaban, yaitu Islam dan Barat.

Published
2018-01-27
Section
Articles