AKAR TRADISI INTEGRASI PENGETAHUAN DALAM NASKAH KLASIK ISLAM NUSANTARA

  • Erawadi Erawadi

Abstract

Keberagaman dan keterbukaan Asia Tenggara terhadap pengaruh luar justru merupakan karakteristik wilayah ini yang paling menonjol. Keterbukaan tersebut tidak hanya dalam aspek budaya, tetapi juga dalam proses perubahan kepercayaan  pun terdapat keterbukaan yang sama terhadap berbagai pemikiran dari luar. Keyakinan universalis berdasarkan kitab suci menguasai seluruh wilayah itu sekitar abad XV sampai XVIII Masehi. Mereka, khususnya orang Melayu Nusantara, mengidentifikasikan kawasannya sebagai negeri “di bawah angin” untuk membedakannya dengan dunia orang luar (terutama orang-orang India, Arab, dan Eropa) dari negeri “di atas angin” yang datang dengan memanfaatkan angin muson Samudra Hindia.

 Pertemuan dan perpaduan budaya dan ideologi antara orang di “negeri bawah angin” dan “negeri atas angin” melahirkan intensifikasi dan dinamika intelektual yang dinamis, beragam dan semarak. Keberagaman dan intensifikasi dinamika intelektual tersebut menjadikan wilayah Melayu Nusantara semakin menarik dalam entitas sosial,  budaya dan intelektual kawasan tersebut. Sejak abad XVII, bahkan sebelumnya, wilayah Nusantara, khususnya Sumatera bagian Barat, telah memiliki posisi dan peran historis sangat penting dalam renaisans tradisi keilmuan dan keulamaan, sehingga wilayah ini selama lima abad telah menjadi titik pusat Kepulauan Nusantara (the pivot of the Archipelago). Adanya berbagai macam pengaruh menciptakan sebuah ”laboratorium” intelektual, yang ditandai dengan munculnya sejumlah karya monumental dalam berbagai disiplin ilmu.

Karya-karya semacam ini, hampir tidak diragukan lagi, mempunyai peran  besar dalam transmisi ilmu pengetahuan Islam, tidak hanya di kalangan komunitas santri, tetapi juga di tengah masyarakat Muslim secara keseluruhan. Karya-karya itu  juga merupakan refleksi perkembangan keilmuan Islam Nusantara. Bahkan, dalam  batas tertentu, dapat juga merefleksikan perkembangan sejarah sosial Islam di kawasan ini. Oleh karena itu, upaya penggalian informasi, melalui karya-karya ulama tersebut, khususnya mengenai integrasi pengetahuan atau keilmuan yang muncul dan berkembang di kalangan ulama dan masyarakat, menjadi sesuatu yang harus dilakukan.

Dalam pembahasan ini, untuk melacak dan memahami akar tradisi integrasi  pengetahuan dalam peradaban Islam Nusantara dilakukan dengan pendekatan historis-filologis. Pendekatan historis dimaksudkan untuk mendeskripsikan peristiwa- peristiwa sejarah yang berhubungan dengan obyek kajian, sedangkan pendekatan filologis mencoba mengungkapkan teks dan konteks yang dikandung oleh naskah-naskah klasik. Dalam hal ini, langkah awal yang perlu dilakukan adalah menemukan dan mengidentifikasi naskah-naskah atau dokumen historis yang berhubungan dengan tradisi integrasi pengetahuan Islam, kemudian naskah-naskah tersebut dianalisis secara mendalam, baik dari sisi teksnya maupun konteks yang melatarinya. Langkah selanjutnya adalah membedakan dan menganalisis sebaran-sebaran pengetahuan yang tumbuh dalam ranah perkembangan peradaban Islam, baik pengetahuan agama maupun  pengetashuan sains.

Sumber utama pembahasan ini adalah kitab Taj al-Muluk al-Murashsha’ bi  Anwa’i al-Durar wa al-Manzhumat kumpulan karangan Abbas al-Asyi (Teungku Chik Kuta Karang) dan Jam'u Jawami' al-Musannafat ( terkenal dengan Kitab Delapan, kumpulan 8 karangan) yang disusun (diedit) oleh Imam al-Asyi, serta didukung dengan naskah dan sumber-sumber lainnya yang relevan.

Published
2018-01-27
Section
Articles